Sampang, 6 Februari 2016 — Media Indonesia Times | Rombongan dari Sidoarjo dan Pasuruan datang lebih awal, disusul Mandagin, lalu Surabaya, Banyuwangi, dan Jember. Mereka tiba tanpa banyak kata, seolah telah sepakat bahwa perjalanan ini bukan untuk bicara, melainkan untuk mengingat.
Di kediaman Pak Hasyim Sampang, mereka berkumpul bukan sekadar sebagai tamu haul, tetapi sebagai jiwa-jiwa yang pulang. Haul ke - 9 Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah tidak hadir sebagai perayaan, melainkan sebagai keheningan yang bernapas. Tidak ada yang benar-benar diam, sebab dalam diam itulah sesuatu sedang bekerja.
Di tempat itu, makrifat tidak dibentangkan sebagai konsep. Ia tidak disampaikan dengan istilah, tidak dirapikan dalam definisi. Ia dihadirkan sebagai rasa. Tidak diteriakkan, tetapi dialami. Tidak diwariskan untuk dihafal, melainkan untuk dilalui perlahan, setia, dan tanpa pamrih.
Di balik hiruk peradaban yang tak pernah benar-benar tidur di antara bangunan yang menjulang dan kehidupan yang berlomba dengan waktu tersimpan satu ruang sunyi yang tak kasatmata. Ruang itu bukan lokasi, bukan pula alamat. Ia adalah keadaan batin, tempat para pencari berhenti mengejar dunia, lalu mulai dipertemukan dengan dirinya sendiri.
Di ruang itulah nama Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah hidup. Bukan sebagai sosok yang ditinggikan, melainkan sebagai jejak kesadaran yang terus bekerja dalam diri para santri. Nama beliau disebut dengan adab, bukan dengan klaim. Dengan diam, bukan dengan kebanggaan. Sebab yang diwariskan bukan figur, melainkan cara hadir di hadapan Allah.
Bagi para muridnya, ajaran beliau bukan rangkaian nasihat yang selesai ketika diucapkan. Ia adalah laku yang terus berdenyut mengendap dalam kesadaran, mengikis perlahan ego, keakuan, dan segala tirai halus yang sering membuat seorang hamba merasa dekat, padahal masih sibuk dengan dirinya sendiri.
Makrifat, dalam pemahaman Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah, bukanlah puncak yang dirayakan. Ia bukan tujuan yang diumumkan. Ia adalah buah dari kesetiaan menempuh jalan, tanpa tergesa ingin sampai.
Syariat, tarekat, dan hakikat tidak beliau pisahkan sebagai jenjang yang dibanggakan satu per satu, melainkan disatukan sebagai satu tarikan napas kehidupan.
Syariat menjaga lahir agar tetap lurus.
Tarekat membersihkan batin agar tidak keruh.
Hakikat membuka makna agar tidak kering.
Dan makrifat sebagaimana sering disiratkan beliau terjadi ketika seorang hamba tidak lagi sibuk merasa dekat, sebab jarak itu sendiri telah luluh oleh kepasrahan.
“Makrifat bukan soal melihat yang gaib,” demikian para santri menangkap ajaran beliau, “melainkan tentang tidak lagi tertipu oleh yang tampak.”
Karena itu, ajaran beliau tidak pernah mengajak lari dari dunia. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dijadikan sandaran. Ia ditempatkan sebagai ladang ujian, bukan tujuan; sebagai amanah, bukan tempat menggantungkan diri. Dari sinilah adab menjadi fondasi utama. Sebab bagi Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah, siapa pun yang mengaku mengenal Allah tetapi meremehkan adab, sejatinya masih berputar di sekitar bayangan dirinya sendiri.
Kesaksian itu hidup dalam diri Yami (63), santri asal Sidoarjo yang lebih dari dua dekade duduk dalam majelis beliau. Waktu tidak membuatnya merasa sampai. Justru sebaliknya ia merasa semakin disadarkan akan keterbatasan diri.
Saya datang dulu sebagai orang yang ingin tahu,” tuturnya lirih, “tetapi yang diurai bukan ilmu di kepala. Yang dibuka itu hati saya sendiri.”
Dua puluh enam tahun berlalu, dan yang ia temukan bukan kepastian, melainkan kesadaran.
“Ajaran beliau itu aneh,” katanya sambil tersenyum, “tidak pernah berubah, tapi selalu terasa baru. Seperti ayat yang sama, tapi dibaca oleh jiwa yang sudah berbeda.”
Itulah tanda ajaran yang hidup: tidak bergantung pada figur, tidak mati oleh waktu, melainkan tumbuh bersama kesungguhan murid dalam mengamalkannya.
Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah jarang berbicara tentang makrifat secara gamblang. Justru ia menyelipkannya dalam hal-hal paling sederhana: sabar dalam keluarga, jujur dalam mencari nafkah, dan ridha pada takdir yang tidak selalu sesuai harapan.
“Pelan-pelan kita sadar,” lanjut Yami, “bahwa mengenal Allah itu bukan soal merasa tinggi, tetapi merasa selesai dengan diri sendiri.”
Kesaksian serupa datang dari Dandung, santri dari Surabaya. Dalam keseharian, ia mengenal Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah sebagai sosok yang bersahaja tanpa jarak, tanpa kemegahan. Namun justru dari kesederhanaan itulah wibawa batin memancar.
“Beliau seperti cermin,” ujarnya, “kita duduk diam, tapi yang terlihat justru kekurangan kita sendiri.”
Makrifat, dalam laku yang diwariskan, mencapai kematangannya ketika seorang hamba mampu menerima hidup apa adanya tanpa kehilangan kesungguhan beribadah. Rendah hati saat dipuji, tenang saat dicaci, dan tetap lurus meski keadaan memaksa berbelok. Bukan karena masalah hidup berkurang, melainkan karena sandaran jiwa telah berpindah dari makhluk kepada Khalik.
Di zaman yang gemar memamerkan segalanya ke permukaan, ajaran Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah justru bergerak ke arah sebaliknya: ke dalam. Ia mengajarkan bahwa kedalaman tidak bisa dipercepat, keikhlasan tidak bisa dipertontonkan, dan makrifat sejati tumbuh dalam kesunyian amal, dalam istiqamah yang tidak ramai, serta dalam doa-doa yang mungkin tidak terdengar siapa pun selain Allah SWT.
Peradaban, dengan segala denyut modernitasnya, menjadi saksi bahwa ajaran semacam ini masih menemukan rumah. Dari guru kepada murid, dari laku kepada laku, dari hati ke hati api itu terus menyala tanpa perlu membakar. Dan mungkin, itulah makrifat itu sendiri: bukan suara yang memanggil,
melainkan kehadiran yang menetap
setelah segala pencarian luruh. (Bagas)© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta