Ketua Umum Fast Respon Counter Polri Nusantara, Agus Flores, menyampaikan arah baru bagi jajaran organisasinya dalam memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Agus menegaskan pentingnya peran anggota Fast Respon dalam mendukung penyebaran informasi kegiatan kepolisian yang positif, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam pesannya kepada jajaran organisasi, Agus meminta para anggota yang mengikuti arahannya untuk aktif memantau kegiatan kepolisian di tingkat Polres hingga Polda. Anggota juga didorong untuk memberitakan berbagai kegiatan positif kepolisian sebagai bentuk partisipasi dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Menurut Agus, keberadaan anggota di wilayah kepolisian bukan semata-mata untuk mencari kesempatan bertemu dengan Kapolres maupun pejabat kepolisian lainnya. Lebih dari itu, kehadiran mereka harus diarahkan pada pelaksanaan tugas organisasi, terutama membangun komunikasi dan berkoordinasi dengan fungsi hubungan masyarakat (Humas) Polri.
“Anggota harus aktif di Polres dan Polda, memantau kegiatan, serta memuat berita tentang kegiatan mereka. Saya mencatat anggota yang benar-benar menjalankan tugas tersebut. Ngepos bukan berarti harus bertemu Kapolres, tetapi menjalankan tugas dan berkoordinasi dengan Humas,” demikian pesan Agus Flores kepada jajarannya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Agus menginginkan anggota Fast Respon bekerja secara nyata di lapangan. Aktivitas organisasi diharapkan tidak berhenti pada keberadaan nama atau jabatan, melainkan diwujudkan melalui kegiatan jurnalistik, koordinasi kelembagaan, serta penyampaian informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN KEPERCAYAAN
Agus Flores juga mengungkapkan bahwa dirinya telah membangun hubungan emosional dan komunikasi dengan sejumlah pejabat kepolisian sejak sebelum mereka menduduki jabatan strategis. Ia menyebut hubungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan interaksinya di lapangan.
Secara khusus, Agus menyampaikan bahwa dirinya memiliki kedekatan personal dengan Suyudi Ario Seto. Menurut penuturannya, hubungan tersebut telah terjalin sebelum Suyudi dipercaya menjabat sebagai Kapolri.
Agus mengenang bahwa dalam berbagai situasi di lapangan, hubungan baik dan kepedulian antarsesama menjadi hal yang penting, terutama ketika seseorang menghadapi kesulitan saat menjalankan aktivitas.
Ia mengungkapkan keyakinannya bahwa hubungan komunikasi yang telah terbangun dapat menjadi modal untuk memperkuat sinergi. Meski demikian, ia menekankan pentingnya menempatkan koordinasi organisasi dalam koridor tugas, etika, dan ketentuan yang berlaku.
Kedekatan personal, dalam konteks hubungan dengan institusi, perlu berjalan beriringan dengan profesionalitas. Koordinasi dengan kepolisian tetap harus menghormati kewenangan masing-masing pihak, sementara publikasi kegiatan Polri perlu mengedepankan akurasi, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat.
TUJUH PERGANTIAN KAPOLRI MENJADI CATATAN PERJALANAN
Agus mengangkat perjalanan waktu sejak 2008 sebagai bagian dari narasi pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan kepolisian. Ia menggunakan pergantian kepemimpinan di tubuh Polri sebagai latar untuk menjelaskan pandangannya mengenai hubungan, komunikasi, dan konsistensi menjalankan aktivitas organisasi.
Sejak 2008 hingga 2026, terdapat sejumlah pergantian Kapolri. Di antara nama-nama yang pernah memimpin institusi tersebut adalah Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, Jenderal Polisi Timur Pradopo, Jenderal Polisi Sutarman, Jenderal Polisi Badrodin Haiti, Jenderal Polisi Tito Karnavian, Jenderal Polisi Idham Azis, dan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Listyo Sigit Prabowo kemudian digantikan oleh Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang resmi dilantik sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026. Pergantian tersebut menandai babak baru kepemimpinan di tubuh Polri.
Bagi Agus, pergantian kepemimpinan menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pola kerja organisasi. Ia ingin anggota Fast Respon terus bergerak, membangun komunikasi dengan jajaran Humas, dan menyampaikan informasi kegiatan kepolisian secara konsisten.
ARAH BARU FAST RESPON: AKTIF, TERKOORDINASI, DAN BERTANGGUNG JAWAB
Dalam arahannya, Agus menekankan bahwa keberadaan anggota di wilayah tugas harus memberikan manfaat yang jelas. Mereka diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik dengan jajaran kepolisian, memahami kegiatan yang berlangsung, serta menyajikan pemberitaan berdasarkan informasi yang dapat dikonfirmasi.
Pemberitaan mengenai kegiatan Polri, menurut arah organisasi yang disampaikannya, dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pelayanan publik, kegiatan sosial, upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, serta berbagai program kepolisian yang relevan bagi warga.
Namun, aktivitas tersebut perlu tetap berpegang pada prinsip jurnalistik yang bertanggung jawab. Informasi yang belum terverifikasi harus diperiksa terlebih dahulu, kritik terhadap institusi perlu disampaikan secara proporsional, dan setiap pemberitaan harus menghindari informasi menyesatkan.
Agus juga mengingatkan bahwa tugas organisasi bukan sekadar membangun kedekatan dengan pejabat, melainkan menunjukkan kontribusi melalui kerja nyata. Koordinasi yang baik dengan Humas diharapkan dapat membantu anggota memperoleh informasi yang tepat sekaligus menghindari kesalahpahaman dalam publikasi.
Dengan kepemimpinan Kapolri Suyudi Ario Seto, Agus Flores menyatakan kesiapan untuk mengarahkan jajaran Fast Respon agar semakin aktif menjalankan tugas di daerah masing-masing. Ia berharap komunikasi yang terbangun dapat mendukung penyebaran informasi yang konstruktif sekaligus menjaga hubungan profesional antara organisasi dan institusi kepolisian.
Bagi Agus Flores, perjalanan lintas kepemimpinan di tubuh Polri menjadi pengingat bahwa konsistensi, komunikasi, dan kerja lapangan merupakan unsur penting dalam menjalankan organisasi. Pesannya kepada anggota Fast Respon jelas: hadir di wilayah tugas, berkoordinasi dengan Humas, mengangkat kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, serta menjaga integritas dalam setiap pemberitaan.
Sinergi dengan kepolisian, pada akhirnya, tidak cukup dibangun melalui kedekatan personal. Sinergi perlu dibuktikan melalui kontribusi nyata, komunikasi yang terbuka, dan komitmen menyampaikan informasi secara akurat demi kepentingan publik.
Red
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta