Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung pengembangan industri kreatif batik Banyuwangi melalui kolaborasi penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF)
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.
Traktir
Pilih nominal traktir:
Nominal terpilih: -
Silakan transfer ke rekening berikut:
BCA 2640596034
a.n. Ari Bagus pranata
Terima Kasih!
Traktir Anda sebesar - telah tercatat sebagai dukungan untuk wartawan & redaksi Media Indonesia Times.
Silakan lakukan transfer ke rekening:
2640596034 (a.n. Ari Bagus pranata, BCA)
Semoga menjadi amal yang berkah!
Setelah menekan tombol Selesai, Anda dapat konfirmasi traktir via WhatsApp.
Terakhir: Konfirmasi via WhatsApp
Konfirmasi traktir Anda sebesar -
untuk berita ini kepada Admin via WhatsApp.
Bukti transfer Anda sudah terunggah & akan segera diperiksa Admin.
BANYUWANGI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung pengembangan industri kreatif batik Banyuwangi melalui kolaborasi penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK). Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem usaha batik, memperluas akses layanan keuangan, sekaligus membuka peluang pasar bagi perajin dan pelaku UMKM lokal.
Anda belum membaca semua isi berita ini
Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, perpaduan BBF dan BIK menjadi langkah strategis untuk memperluas literasi serta inklusi keuangan di tengah masyarakat, khususnya para pelaku industri kreatif.
Menurutnya, pengembangan industri batik membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya perajin, tetapi juga pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga masyarakat sebagai konsumen produk lokal.
“Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah,” ujar Aris.
Ia berharap kolaborasi BIK dengan Banyuwangi Batik Festival yang telah berjalan dua kali tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Banyuwangi, terutama para perajin batik.
Tahun ini, BBF kembali digelar di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6-8 November 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2013, festival ini mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan, BBF telah berkembang menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkuat ekosistem usaha batik di daerah.
Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival tahunan tersebut.
“Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya,” ujar Mujiono saat menghadiri pembukaan BBF, Jumat (6/11/2026).
Mujiono berharap BBF terus menjadi ruang bagi para perajin untuk berkarya dan berinovasi, baik dalam pengembangan motif, desain, maupun strategi pemasaran.
"Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi," kata Mujiono.
Sejak pertama kali digelar, BBF tidak sekadar menjadi ajang peragaan busana. Festival ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan motif batik kuno Banyuwangi, mendorong kreativitas perajin, serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya lokal.
Setiap tahun, BBF mengangkat motif batik yang memiliki karakter dan filosofi tersendiri. Sejumlah motif khas yang pernah diperkenalkan di antaranya Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.
Tahun ini, motif Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi representasi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Banyuwangi, sekaligus memperkaya khazanah batik lokal agar semakin dikenal masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan BBF dan BIK tahun ini turut diisi dengan peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), talk show literasi keuangan, kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish berkualitas, hingga BIK Run.
Selain menjadi ruang ekspresi budaya, festival ini juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi langsung dengan masyarakat maupun wisatawan.
Eca, salah satu pelaku usaha batik yang berpartisipasi dalam festival, mengatakan seperti Sabuk Mangir Latar Ukel, menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan batik Banyuwangi yang lebih beragam.
“Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal,” ungkapnya. (*)
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.