Cuaca
Memuat cuaca...

Penyair Banyuwangi Akan Gelar “Lantunan Puisi Kemanusiaan” sebagai Ekspresi Kultural atas Krisis Global

Penyair Banyuwangi Akan Gelar “Lantunan Puisi Kemanusiaan” sebagai Ekspresi Kultural atas Krisis Global
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.

BANYUWANGI— Fenomena konflik bersenjata yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada aspek geopolitik, tetapi juga memunculkan krisis kemanusiaan yang kompleks serta gangguan terhadap stabilitas ekonomi global. Dalam konteks tersebut, komunitas sastra di Banyuwangi merespons melalui pendekatan kultural dengan menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Lantunan Puisi Kemanusiaan”, yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 14 April 2026 pukul 14.00 WIB di Langgar Art Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas dan organisasi, meliputi Lentera Sastra Banyuwangi, Forum 28, IPNU-IPPNU Banyuwangi, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB), serta HISKI Komisariat Banyuwangi. Secara konseptual, kegiatan ini dirancang sebagai ruang artikulasi ekspresi sastra yang berfungsi tidak hanya sebagai medium estetika, tetapi juga sebagai instrumen refleksi sosial dan moral terhadap realitas global. Ketua panitia, Ayung Notonegoro, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran kolektif atas urgensi membangun solidaritas kemanusiaan melalui pendekatan non-konvensional. Menurutnya, sastra memiliki kapasitas untuk menghadirkan sensibilitas publik terhadap isu-isu kemanusiaan. “Kegiatan ini merupakan bentuk artikulasi kepedulian moral yang diwujudkan melalui ekspresi sastra. Kami berupaya menghadirkan ruang reflektif yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya perdamaian dunia,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menempatkan puisi sebagai medium simbolik yang memiliki daya jangkau universal dalam menyampaikan pesan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa puisi tidak sekadar konstruksi linguistik, melainkan representasi nilai-nilai etik yang dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap konflik. “Puisi memiliki dimensi reflektif dan transformatif. Melalui bahasa yang simbolik, puisi mampu mengartikulasikan kegelisahan kemanusiaan sekaligus menawarkan harapan akan terciptanya perdamaian,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga melibatkan aktor-aktor internasional, termasuk personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam beberapa kasus, keterlibatan tersebut turut menimbulkan korban jiwa, sehingga mempertegas kompleksitas konflik yang terjadi. Kegiatan “Lantunan Puisi Kemanusiaan” ini diharapkan dapat berfungsi sebagai medium advokasi kultural yang mendorong terbentuknya kesadaran publik mengenai pentingnya resolusi konflik berbasis dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan bangsa. Dengan demikian, sastra tidak hanya diposisikan sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berkontribusi dalam membangun wacana perdamaian global. Melalui pendekatan ini, para penyair Banyuwangi berupaya menegaskan bahwa ekspresi budaya tetap memiliki relevansi dalam merespons dinamika global. Puisi, dalam hal ini, dipandang sebagai representasi suara kolektif masyarakat yang menginginkan dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban.

(Syafaat)

Id
Penulis Idham Holid
Id
Editor Idham Holid

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN