Peringatan Hari Jadi Bhayangkara Majapahit ke-733 tahun menjadi momentum istimewa bagi Ketua Umum Fast Respon Counter Polri Nusantara (FRN), Raden Mas Haji Agus Rugiarto Astrodiarjo, S.H., M.H., yang dikenal luas dengan nama Agus Flores dan sebutan Sultan Besuki.
Pada 30 Oktober hingga 1 November 2026, Agus Flores kembali mengunjungi Mojokerto, Jawa Timur, untuk melaksanakan doa dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan leluhur Majapahit.
Bagi Agus Flores, Mojokerto bukan sekadar tempat berziarah. Tanah yang memiliki hubungan erat dengan sejarah kejayaan Majapahit tersebut menyimpan nilai kebangsaan, budaya, dan spiritual yang patut dijaga serta dikenalkan kepada generasi penerus.
Menariknya, Agus Flores mengungkapkan bahwa dirinya memiliki tradisi mendoakan Bhayangkara sebanyak dua kali dalam setahun. Pertama, setiap 1 Juli dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara Polri. Kedua, pada 30 Oktober hingga 1 November sebagai momentum yang dimaknai oleh dirinya dan lingkungan Fast Respon Nusantara sebagai Hari Jadi Bhayangkara Majapahit.
Tradisi tersebut, menurut pengakuannya, telah dijalankan selama kurang lebih 15 tahun, sejak dirinya berusia sekitar 35 tahun.
“Pasti banyak yang bertanya-tanya, mengapa saya mendoakan Bhayangkara dua kali dalam setahun? Pertama, Hari Bhayangkara Polri setiap 1 Juli. Kedua, Hari Bhayangkara Majapahit yang kami peringati pada 30 Oktober sampai 1 November. Bagi saya, keduanya memiliki makna tersendiri dalam menghormati sejarah dan semangat pengabdian,” ungkap Agus Flores.
Ia juga menjelaskan pandangannya mengenai penanggalan kalender Saka yang menurut pemahamannya memiliki keterkaitan dengan periode akhir Oktober hingga awal November, di sekitar masa Asuji atau Asvina menuju Kartika.
“Kalau kita berbicara tentang sejarah, jangan sampai kita melupakan akar peradaban sendiri. Saya memaknai tanggal 30 Oktober sampai 1 November sebagai momentum untuk mengenang sejarah Majapahit. Karena itu, saya selalu berusaha hadir di Mojokerto untuk berdoa, berziarah, dan melakukan tabur bunga,” ujarnya.
Agus Flores menegaskan bahwa kedatangannya ke Mojokerto setiap akhir Oktober bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial.
“Makanya, tanggal 30 Oktober sampai 1 November saya sering berada di Mojokerto, tanah Majapahit. Saya datang untuk berdoa, mencari keberkahan, serta menghormati sejarah para leluhur. Bagi organisasi FRN, momentum ini menjadi pengingat Hari Jadi Bhayangkara Majapahit yang kami maknai telah mencapai usia 733 tahun,” tegasnya.
Tahun 2026 menjadi momentum peringatan 733 tahun berdirinya Kerajaan Majapahit, yang secara historis dikaitkan dengan tahun 1293. Kerajaan tersebut merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Nusantara, dengan warisan nilai persatuan, kepemimpinan, perjuangan, dan kebesaran peradaban.
Sebagai Ketua Umum Fast Respon Counter Polri Nusantara, Agus Flores berharap kegiatan doa dan tabur bunga ini tidak hanya menjadi tradisi pribadi, tetapi juga dapat memberikan inspirasi kepada anggota FRN untuk semakin mencintai sejarah bangsa.
Menurutnya, menghormati leluhur bukan berarti terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan mengambil pelajaran dari sejarah untuk memperkuat persatuan, menjaga kebudayaan, dan membangun masa depan Indonesia.
Ia juga berharap generasi muda tidak melupakan Mojokerto sebagai salah satu pusat penting sejarah Majapahit. Sejarah harus terus dipelajari, dirawat, dan diwariskan agar nilai-nilai luhur bangsa tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Bagi Agus Flores dan lingkungan Fast Respon Nusantara, peringatan 30 Oktober hingga 1 November 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Momentum tersebut menjadi bagian dari tradisi doa, penghormatan sejarah, dan refleksi kebangsaan yang telah dijalankannya selama kurang lebih 15 tahun.
Melalui tabur bunga di tanah Majapahit, Agus Flores ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah dan menghargai perjuangan para pendahulunya.
Redaksi
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta